BAB 5

BAB 5

Dua kali berturut-turut, kemarin aku kesiangan dan hari ini aku telat. Mungkin besok aku tidak akan sekolah kalau melihat polanya. Setidaknya hari ini tidak hujan seperti kemarin, setidaknya pagi ini tidak hujan.

Sepertinya jam tidurku terganggu. Kemarin semalaman aku mengutak-atik laptopku. Aku mencoba mencari-cari film yang kubuat, tetapi aku kesulitan menemukannya karena folder-folder di dalam laptopku tidak tertata.

Karena film, aku mencoba mencari-carinya di dokumen dan video tetapi tidak ada, tidak ada berkas disana. Aku berencana untuk mencarinya lagi sore ini karena kemarin sudah terlalu larut malam dan petir diluar benar-benar menakutiku.

“Kok kamu telat lagi Rikka?” kata Novie yang sudah duduk di kursinya ketika aku meletakkan tasku. Aku duduk di kursiku, lalu meregangkan tubuhku di mejaku.

“Aku engga bisa tidur semalaman. Suara petir sama kilat keras banget di kamarku”

“Kamu takut petir? Kok aku baru tahu”. Bukannya aku takut petir, hanya saja suaranya sangat dekat dan kilatannya bisa masuk melewati gordenku‒ Ok, aku takut petir.

“Tenang, aku juga baru tahu kemarin. Lagipula kenapa Pak Han belum ke kelas?” kataku. Walaupun aku sendiri terlambat ke kelas, Pak Han lebih terlambat dariku. Aku jadi tidak dimarahi, jadi itu adalah hal baik.

“Kemarin dia begadang ngetik di laptopnya” kata Novie.

“Lagi ngomongin apa nih?” tiba-tiba terdengar suara Reiki dari belakangku.

Aku kaget dan tanpa sadar menjawabnya “Eh, hmmmm…”. Kenapa aku hanya berguman? Ini tak seperti hanya ada satu Reiki Alter di dunia. Selain itu aku tak yakin siapa yang membuat kata sandi itu.

“Adadeh” kata Novie tersenyum lebar menyelamatkanku

“Rahasia cewek ya?” kata Reiki curiga

“Eh, enggak juga sih‒ cuma ngomongin laptop” kata Novie grogi, mungkin rasa grogi itu menular. Sekarang giliranku yang menyelamatkan Novie.

“Ngomong-omong tentang laptop, kemarin aku berhasil buka laptopku…” sebelum aku menyelesaikan kalimatku, tiba-tiba Pak Han masuk ke dalam kelas dengan terburu-buru. Begitu juga dengan Reiki yang buru-buru kembali ke tempat duduknya.

“Mau main SOS? Aku bosen nih” tertulis di sebuah kertas yang diserahkan Novie kepadaku. Dia mulai lagi, belum ada setengah jam pelajaran matematika dia sudah bosan saja.

“G” tulisku dan kuserahkan kertas itu kembali pada Novie. Aku mencoba untuk mengejar pelajaran yang tertinggal selama aku sakit. Lalu ketika ku lirik Novie, dia terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu.

“Tadi kamu bilang kamu berhasil buka laptopmu?” tulisnya.

“Y” tulisku. Ketika kuserahkan kertas itu padanya, dia langsung cemberut. Dia berbisik sesuatu padaku, “Hemat tinta banget kamu” bisiknya. Sekali lagi kutulis huruf Y di kertas itu untuk meresponnya.

“Kok bisa kebuka laptopmu? Kamu udah tahu orang yang kamu sayangi?” tulisnya setelah mencorat-coret kedua huruf Y yang kutulis. Apa Novie mau bilang ‘tintaku lebih banyak dari punyamu’?

Apa perlu kubilang tentang kata sandinya? Aku sendiri tak yakin kenapa bisa nama Reiki yang jadi kata sandi laptopku. Kurasa aku akan bilang saja, lagipula sepertinya Novie dekat dengan Reiki mungkin dia bisa mencari informasi darinya.

Aku mengambil kertas itu, saat aku baru mulai menulis, Novie mendekatkan wajahnya ke telinga kiriku, “Awas aja kamu pelit tinta ya”. Tepat disampingku, Novie memperhatikan dengan ketat apa yang akan kutulis.

“Iya, aku coba-coba dan entah kenapa bisa terbuka pada akhirnya saat aku ngetik namanya…”, “Stop!” kata Novie cukup keras di dekat telingaku. “Biar aku yang nebak” katanya. Novie lanjut merebut kertas itu dariku dan menulis nama-nama, secara acak. Aku menyilangi nama-nama itu menandai bukan.

“Vow”, X, Bukan. Aku juga berharap aku bisa membukanya dengan nama Vow.

“Ayahmu”,.X, Bukan.

“Ibumu”, X, Bukan lagi.

“Pak kepala sekolah”, X, Bukan lagi. Aku bahkan tak tahu namanya.

Lalu Novie melepaskan pulpennya, memandangi mataku dalam-dalam, dan berkata “Jangan-jangan‒ Pak Han?!” dengan ekspresi kaget yang dipaksa-paksakan.

“Enggaklah!” kataku dengan keras tanpa sadar. Sebelum Pak Han melihat ke arahku, aku sudah mengambil posisi membaca buku. Begitu juga Novie, walaupun bukunya terbalik.

“Pssttt! Kalau bukan Vow atau orang tuamu, siapa lagi dong?” tulisnya. Saat kulirik, dia meletakkan telunjuk di depan bibirnya, menyuruhku untuk diam. Apa aku akan menyembunyikannya dari Novie, sahabatku?

“Masalahnya kata sandiku itu Reiki” tulisku di kertas tadi setelah berpikir cukup lama.

“Reiki itu emang nama pasaran sih” tulis Novie. Apa dia baru saja mengejek Reiki?

“Si Reiki Alter” kataku membisukan Novie. Ekspresi wajahnya seperti terkejut, bukan terkejut yang dibuat-buat seperti tadi, tapi benar-benar terkejut. Bibirnya terbuka, dan matanya melirik kesana kemari.

“Novie?” kataku sembari menyikunya.

“Aku gapapa, gimana kalau kita lanjutin lain kali aja. Tiba-tiba aku pengen belajar matem nih” katanya sembari melihat kedepan.

“Kamu kerasukan apa? Sakit? Bukannya kamu gasuka matem ya?”

“Erika, perutku sakit, aku mau ke uks dulu”

“Mau aku anterin?”

“Enggak usah”

Lalu Novie berdiri dan lari dengan cepat keluar kelas tanpa disadari Pak Han. Aku juga ikut berdiri, aku permisi kepada Pak Han dan keluar dari kelas dimana aku sadar bahwa aku tidak tahu dimana letak UKS sekolahku.

Sudah cukup lama Pak Han melewati jam mengajarnya. Mungkin sudah 30 menit, mungkin lebih atau kurang. Tapi yang pasti aku merasa waktu sudah sangat lama berjalan. Tapi ketika kulihat jam di dinding belakang kelasku, baru lewat 10 menit. Bagaimanapun juga, ini sudah jam istirahat.

Reiki memasukkan bukunya ke dalam tas dan berjalan ke arahku. Ketika kulihat sekeliling, yang lain juga sudah mulai berkumpul dengan kelompok mereka masing-masing. Mereka pasti sangat bersemangat berkumpul setelah Pak Han menyita waktu mereka cukup lama.

“Si Novie kenapa?” kata Reiki menarik kursi dan duduk di depanku.

“Aku gatau, katanya sih sakit perut tapi dia malah ke uks”

“Kok si Novie aneh banget akhir-akhir ini. Dua hari lalu dia maksa minta nomer hapeku, kemarin katanya dia ditinggal temennya dan minta aku anter” cerita Reiki di depanku.

“Jangan-jangan dia suka kamu Rek” kata Vow yang mendengarkan dari belakang Reiki. Novie suka Reiki?

“Enggalah!” kata Reiki sembari mendorong Vow ke samping

“Mending kamu ke UKS juga deh, kamu keliatan kayak zombie aja” lanjut Reiki. Melihat Vow yang lesu dan kantung mata serta kulitnya yang kepucatan, aku setuju dengan Reiki. Mungkin dia juga kurang tidur sepertiku.

‘ “Ngomong-omong gimana persiapanmu buat besok” tanya Vow‒ Aku lupa.

“Persiapan apa?” tanya Reiki

“Oh ya, kamu kan belum tahu” jawab Vow kepada Reiki. Aku diumumkan  menjadi finalis sebelum Reiki pindah kesini, jadi tentu dia tidak tahu.

Vow berlanjut menjelaskan tentang lomba film yang kuikuti. Tentang aku yang menjadi finalis, dan untuk menentukan juaranya aku harus mempresentasikan film yang kubuat.

Natasha yang kebetulan mendengar juga ikut menjelaskan tentang lomba yang kuikuti, begitu juga dengan yang tidak kuikuti‒ entah kenapa. Ada sebuah lomba film juga yang diselenggarakan sekolah tidak lama setelah aku mengikuti lomba film ini. Katanya, aku bersikeras ingin mewakili kelas untuk film itu tapi Natasha memilih orang lain untuk mewakili kelas.

Lomba film itu mengambil tema alam. Sedangkan lomba yang kuikuti mengambil tema remaja. Natasha berkata ideku untuk film alam itu adalah hujan, tentang hujan yang bisa menghapuskan kesedihan, tentang hujan yang bisa menyembunyikan tangisan.

“Udah masuk aja?” protes Reiki ketika mendengar bel masuk yang berbunyi dengan keras. Natasha yang juga mendengar bel itu dengan cepat kembali ke bangkunya. Sedangkan Reiki masih ingin memanfaatkan waktu kosong menunggu guru masuk ke kelas.

“Bagaimanapun juga besok aku ada presentasi lomba” kataku agar Reiki segera kembali ke mejanya

“Kamu ga jago presentasi?” kata Reiki, masih duduk di depanku

“Aku benar-benar gatau apa yang harus kupresentasiin, aku engga inget film yang kubuat”

“Ada yang bisa aku bantu?”

“Kayaknya engga ada, lombanya juga di Jakarta. Kamu mau bawain koperku kesana?”

“Jakarta?” kata Reiki menanya balik padaku. Aku menjelaskan lokasi final lomba kepada Reiki, di sebuah hotel di pinggiran kota Jakarta. Final lomba itu dilaksanakan selama satu minggu yang dimulai dari besok.

“Bu Guru dateng” teriak salah seorang yang berdiri di dekat pintu. Reiki, dan juga kelompok-kelompok lain di kelas ini kembali ke tempat duduk mereka. Perubahan dari suasana ramai menjadi sepi hanya dalam hitungan detik.

Walaupun begitu, bukan berarti aku akan menikmati dua jam kedepan dengan tenang. Terutama karena sekarang adalah pelajaran fisika, tetapi juga karena aku tidak ada teman mengobrol.

Aku merasa kesepian. Perasaan yang mirip dengan yang kurasakan saat pertama kali masuk ke kelas ini satu bulan yang lalu. Teman mengobrolku, Novie sedang ke UKS dan aku ditinggal sendirian bersama tumpukan kertas-kertas ini.

Belum satu jam pelajaran berlalu, aku sudah kebosanan. Di ujung mataku kulihat kertas yang kutulisi bersama Novie tadi. Kuambil dan kutaruh diatas buku fisikaku, kubaca secara diam-diam. Aku tak bisa menahan tawaku ketika aku membaca barisku yang hanya satu huruf saja.

Ketika aku melirik ke arah guru, secara tak sengaja aku berkontak mata dengannya. Dia terlihat aneh, matanya menyipit dan mulutnya terbuka sedikit. Aku dengan cepat mengalihkan pandangan ke bukuku.

Aku meliriknya sekali lagi, dia masih mengarahkan pandangannya ke arahku. Dengan tangan kanan, kuambil pulpen yang ada disampingku sementara tangan kiriku kugunakan untuk menopang kepalaku. Aku pura-pura menulis sesuatu.

Terlintas dipikiranku untuk menulis yang terjadi barusan. ‘Guru fisikaku kayaknya udah gila’. Aku merasa menikmati menuliskan isi pikiranku diatas kertas seperti ini. Aku melanjutkan menulis, ‘Kesendirian ini mungkin juga akan membuatku gila’, dan kuakhiri dengan ‘Apa Novie benar-benar menyukai Reiki?’