BAB 4

BAB 4

“Kamu manis, sama seperti dulu” kata Vow dari atas motornya menatapku. Karena bingung ingin memakai pakaian apa, aku pada awalnya ingin memakai pakaian sekolah. Tapi karena ini adalah hari minggu, aku yakin orang-orang akan menatapku dengan aneh jika memakai pakaian putih-abu. Jadi aku hanya memakai pakaian sehari-hari yang ada dalam lemariku. Sebuah baju kasual putih, celana panjang hitam dibarengi sepatu olahraga.

Aku sendiri tak tahu pakaian yang kupakai sekarang sama dengan yang biasa kupakai dulu. Tapi pakaian yang kupakai sekarang ada di dalam lemariku, jadi kurasa tidak akan jauh berbeda.

Kalau saja aku punya waktu, mungkin aku akan membeli pakaian baru. Pakaian yang kupakai saat ini cukup menarik perhatian. Walaupun Vow bilang aku manis, aku tak yakin apakah dia memujiku atau Erika yang dulu.

Itu mengingatkanku, aku belum menjawab pujiannya. “Kita bakalan ke mana?” kataku, tak bisa memikirkan jawaban yang lebih baik.

“Kamu cukup percaya saja sama aku, kita bakalan ke tempat kita senang-senang dulu” katanya. Bagaimana aku bisa mempercayaimu, aku bahkan tak mengenalmu.

Aku memegang baju Vow dengan kedua tanganku. Aku bersyukur dia tidak memintaku untuk memeluknya karena aku tak tahu bagaimana cara untuk menolak permintaannya itu.

Bagaimanapun juga, sudah cukup lama aku bonceng di motor Vow. Rasanya tidak nyaman karena suasana sunyi sedari tadi. Apa aku harus memulai pembicaraan? Walaupun aku ingin, aku tak tahu apa yang harus kubicarakan.

Apa aku harus bertanya tentang sekolahnya? Tidak‒ kami berada di satu sekolah. Kalaupun tentang kelasnya, aku tak tahu banyak tentang kelasnya. Pasti akan sangat aneh kalau sebuah percakapan selesai begitu saja.

“Gimana, Kamu udah terbiasa sama kelasmu belum?” tiba-tiba Vow yang memulai pembicaraan.

“Kalau sama kelas belum. Mungkin baru sama Novie, Natasha, Reiki…” dan setelah berpikir sesaat aku melanjutkannya dengan berkata “Dan sama kamu Vow”

“Vow… Aku inget dulu kamu manggil aku Bow. Atau kadang-kadang kamu juga manggil aku Cow‒ Walau aku gabisa nemu nama yang lebih bagus buat manggil kamu”. Cow? Ejekan yang bagus, diriku!

“Soalnya Erika adalah nama yang cocok untuk Erika” lalu Vow tertawa kecil. 

Vow menghentikan motornya. Ketika ku lihat sekeliling, ada sebuah lapangan yang cukup luas dengan sebuah patung besar di tengahnya. Sepanjang jalan di sekitar lapangan ini cukup rindang dengan pepohonannya. Lapangannya sendiri sangat hijau karena rumputnya.

Aku turun dari motor dan berdiri diatas trotoar sembari menunggu Vow memarkirkan motornya. Suasana disini sangat tenang aku bisa mengerti jika ini adalah tempat favoritku dulu. Aku menarik nafas dalam-dalam, udara disini segar. Apa aku terkena fatamorgana udara? pikirku, tanpa sadar aku senyum-senyum sendiri.

“Ini dimana?” kataku, mungkin aku akan kesini lain kali. Mendengar itu Vow naik ke atas trotoar, matanya tertuju ke lapangan luas itu. Disampingku dia tersenyum dan berkata “Ini adalah tempat aku nembak kamu…”.

Seketika aku menyesal menanyakan pertanyaan itu. Hatiku terasa sesak melihat senyuman asli di wajahnya. Apa yang harus kukatakan sekarang.

“Aku takut banget soalnya kamu bilang enggak awalnya…” Apa aku menolak Vow? Tidak, teman-teman sekelas tahu aku berpacaran dengan Vow.

“Untungnya kamu cuma bercanda dan bilang iya”

Aku terdiam mematung, apa aku harus mengalihkan pembicaraan dengan bercanda. Atau aku harus menjawabnya dengan serius. Atau aku harus diam saja.

Masih tak mengucapkan satu katapun, aku melihat Vow turun dari trotoar. Ia membalikkan badannya dan berkata “Ayo nyebrang, mumpung udah sepi”, masih dengan senyumannya yang sama.

Walaupun aku diatas trotoar, Vow masih terlihat lebih tinggi dariku. Rambutnya tebal dan agak panjang. Alis tebal diatas mata hitamnya. Tangan kanannya dibuka, diulurkan di depan tangan kiriku. Tanpa sadar kuraih tangannya dengan tangan kiriku.

Vow menarikku untuk menyebrangi jalan ini, menuju ke sisi seberang di tempat lapangan hijau berada. Tempat dia menembakku. Sebuah kenangan yang sangat berharga baginya. Bagaimana aku bisa tidak mengingatnya.

Kuhentikan langkah kedua kakiku. Tangan kiriku terasa tertarik ke depan tapi aku mencoba menahannya. Terlihat garis-garis putih di depan pandanganku. “Vow” kataku.

Kuangkat kepalaku dengan perlahan. Kulihat wajah Vow. Senyuman di wajahnya tadi menghilang. Aku merasakan kesedihan di wajahnya. Apa keputusanku menghentikannya salah.

“Maaf” kataku. Aku tak bisa memandang matanya. Tanpa sadar aku menundukan kepalaku.

“Kalau mau bicara, sampai di seberang saja dulu” kata Vow sembari menarik tanganku. Aku berbalik menarik tangannya.

“Aku benar-benar tak bisa mengingatnya” kataku tanpa melihat wajahnya. Apakah aku pantas disebut seorang pacar jika aku tak mengingat tempat pertama kali aku menjadi pacarnya. Apakah aku pantas disebut seorang teman jika aku bahkan tak bisa mengingat nama-nama mereka.

Air mataku serasa akan keluar. Kubiarkan diriku jika aku ingin menangis, tapi aku tak tahu apa yang harus kutangisi. Kenangan-kenangan yang sudah tak kuingat?

Sebelum aku sempat menangis, suara bel mobil yang cukup keras menarikku kembali dari pikiran-pikiranku. Vow menarikku dengan keras kali ini. Kubiarkan dia menarikku sampai di seberang jalan. Disana ia melepaskan tanganku.

Kakiku sudah terasa lelah, tapi aku masih berusaha mengikuti punggung Vow dari belakang. Aku tertinggal cukup jauh, kurasa aku belum pulih setelah lama tidak bergerak di rumah sakit. Tunggu ingin kukatakan, tapi kurasa sekarang bukan waktu yang tepat. Terutama setelah apa yang kukatakan tadi. Sekarang aku hanya cukup menahannya saja, dan terus berjalan.

Hingga akhirnya tiba-tiba Vow terdiam, aku memperlambat gerakan kakiku hingga berhenti. Saat kulihat sekeliling aku sadar sudah berjalan cukup jauh. Tapi pemandangan rerumputan yang luas ini adalah hadiah yang cukup manis untuk usahaku.

Di kejauhan kulihat ada beberapa tenda berdiri, dikelilingi pepohonan yang cukup rindang. Sedangkan di dekatku, kulihat Vow terduduk. Tak tahu apa yang harus kulakukan, kuikuti instingku untuk mendekatinya secara perlahan. Lalu aku duduk disampingnya.

Wajah Vow sudah tidak terlihat sedih lagi, sedikit senyuman terlihat dari kedua pipinya. Setelah diam untuk beberapa waktu, “Kamu lihat tenda-tenda itu?” kata Vow sembari menunjukan jarinya ke arah depan.

“Dulu sekolah kita pernah mengadakan kemah pramuka disini. Saat merayakan api unggun di malam harinya aku duduk disampingmu. Mungkin itu adalah kali pertama aku berbicara padamu”

“Bahkan sebelum kita tamat SMA, aku sudah merasa merindukan masa-masa seperti itu. Akan sangat menyenangkan jika sekolah mengadakan acara-acara seperti itu lebih sering dan mengurangi jam-jam sekolah yang tidak berguna”

“Kalau Erika denger aku gitu, mungkin kamu bakal bilang wah, bilang aja kamu pengen berduaan bareng aku dan aku bakal jawab Emangnya kamu gamau?” kata Vow dengan sedikit senyuman di wajahnya, tanpa sadar aku memandanginya terlalu lama.

Vow berdiri dengan tiba-tiba, lalu melihatku dengan senyum dan berkata “Erika, kamu lapar engga?”. Aku sedang tidak lapar, tapi aku merasa ditekan untuk menjawab iya dari ekspresi wajahnya itu. Dengan begitu aku menganggukan kepalaku, masih memandangi wajah Vow.

“Ini adalah tempat kencan pertama kita‒ enggak juga sih, sebenarnya lebih kayak saat kemah reguku malas memasak, jadi aku menyelinap ke restoran terdekat dan malah ketemu kamu disana. Waktu itu kamu becanda mau nyuapin aku, padahal kita belum pacaran saat itu, tapi aku derkam aja sendokmu” kata Vow duduk di meja depanku.

Aku tak tahu pernah berbuat nakal seperti itu, kurasa memang masa abu-abu akan terasa lebih indah saat dikenang. Terbukti dengan tawa Vow di depanku.

Saat Vow berdiri untuk membayar ke kasir, kuminta dia untuk diam sesaat. Aku ingin membayar apa yang kumakan dengan uangku sendiri, aku merasa tak enak dia membayariku padahal aku saat ini sedang punya uang.

Kuambil amplop yang ada di kantongku, “Biar aku yang bayar pesananku sendiri” kataku. Dengan cepat kurobek bagian atas amplop itu. Ketika kulihat kedalamnya, ada selempir kertas. Apa hadiahku adalah sebuah cek?

Ketika kuambil kertas itu,  Vow langsung tertawa terbahak-bahak. “Kenapa kamu ketawa?” tapi dia tidak menjawab pertanyaanku, dia hanya bilang “Biar aku aja yang bayar. Lagipula aku yang ngajak kamu keluar sekarang” lalu berbalik dan berjalan menuju kasir. Setidaknya aku bisa membuatnya tertawa, tidak hanya membuatnya sedih, aku tak boleh kalah dari diriku sendiri.

Walaupun begitu aku masih bingung apa yang membuat Vow tertawa. Ketika kubalik kertas itu kulihat ada sesuatu yang tertulis disana, “Hanya untuk formalitas, tolong ambil hadiah kamu di bendahara sekolah”  

Hanya dengan memandangi langit saja, aku tahu hari akan segera gelap. Cahaya matahari yang tadinya bersinar terang diatasku, sekarang dengan malu mengintip dibalik awan-awan.

Awan-awan itu terlihat gelap, aku menjadi khawatir akan segera turun hujan. Kekhawatiranku menjadi kenyataan ketika setetes air mengenai tanganku. Lalu wajahku juga merasa terkena sengatan dingin.

Kulepaskan tangan kananku dari jaket Vow. Kubuka satu persatu jariku dan kutengadahkan menghadap ke langit. Iya benar hujan.

Vow mungkin belum sadar akan segera hujan. Setelah kukembalikan pegangan tanganku, kumajukan wajahku mendekati telinga kanan Vow yang berada di balik helm hitamnya. “Vow, hujan” kataku dengan keras. Fokus Vow yang dari tadi di jalan, kini dialihkan sedikit untuk memeriksa keadaan sekitar.

Vow menurunkan kecepatan motornya dengan perlahan lalu berhenti di pinggir jalan di dekat sebuah toko yang sedang tidak buka. Tepat ketika sudah berhenti, aku dengan cepat turun dari motornya dan berteduh di toko tadi.

Ketika kulihat jalan yang kulalui tadi, kendaraan yang lewat sudah berkurang secara drastis. Bukan hanya motor, tapi begitu juga dengan mobil yang lewat. Banyak diantaranya yang berhenti di dekat pohon besar yang terletak di pinggir jalan. Mereka sedang memakai mantel hujan. Sedangkan Vow sedang sibuk dengan jok motornya.

Kuarahkan pandanganku jauh ke depan, bercak cahaya matahari yang terakhir dapat kulihat di detik-detik terakhirnya. Matahari sudah bersembunyi di balik luasnya lautan, di sisi lain jalan bypass ini.

Hujan dengan tiba-tiba menjadi deras. Dapat kudengar dari suara yang mengeras dari sebelah kananku, berjalan dengan cepat menuju ke telinga kiriku. Tepat disaat suara itu berada diatasku, Vow meloncat ke bawah perlindungan toko ini.

“Sorry Erika, kayaknya aku lupa bawa mantel” katanya disampingku, dari raut wajahnya aku tahu dia kebingungan. Bukan masalah yang besar bagiku, hanya saja besok adalah hari Senin. Dan lagipula memang akhir-akhir ini cuaca sulit diprediksi.

“Tidak masalah untukku”. Aku tak ingin Vow menyesal mengajakku keluar, Vow bermaksud baik untuk segera mengembalikan Erika yang dulu.

Mungkin yang seharusnya meminta maaf maaf adalah aku. Setelah seharian mengajakku keluar, aku belum bisa mengingat satu halpun tentang diriku yang dulu. Tapi ada satu hal yang ku pelajari hari ini, Vow dan Erika dulu bersenang-senang saat menghabiskan waktu bersama. Aku iri dengan diriku sendiri.

Kusilangkan kedua tanganku. Suara-suara kendaraan yang lewat sudah menghilang, digantikan dengan suara ombak di kejauhan dan angin yang bertiup dengan kencang menggoyangkan ranting-ranting pepohonan.

Tiba-tiba aku merasakan kehangatan. Ketika ku lirikkan mataku kekiri, Vow sudah tidak menggunakan jaketnya. “Makasih”.

Dengan bantuan kedua tanganku, kupakai jaket tebal Vow. Jaketnya yang kebesaran ini, entah mengapa membuatku tersenyum sedikit. Tanganku hampir tidak terlihat dihalangi oleh lengan jaket ini yang sangat panjang. Dengan tangan kiri, kupegang tangan kananku erat-erat.

Memang jaket ini tidak menghangatkan kakiku. Tapi melihat Vow yang juga kedinginan disampingku, menghangatkan hatiku. Kurasa ini tidak buruk juga.

Setelah mandi, kupakai pakaian yang tebal, celana yang panjang dan dengan handuk aku mengeringkan rambutku di depan laptopku.

Aku memandangi petunjuk kata sandi laptopku. Orang yang selalu kusayangi. Kuhentikan tanganku mengeringkan rambutku, dan dengan bantuannya kutekan tombol demi tombol untuk menuliskan nama lengkap seseorang, V-O-W.

Akhapa aku tanpa sadar sudah melukai perasaan Vow? Disaat perjalanan Vow mengatakan aku memanggilnya dengan sebutan Bow. Lalu tepat setelah itu, aku memanggilnya, bukan dengan nama yang diberikan Erika, tapi dengan sebuah nama yang diberikan teman-temannya, Vow.

Aaaa apa yang kulakukan. Kenangan yang baru saja kubuat, yang aku dan Vow buat, tiba-tiba memasuki pikiranku. Kucoba memasukkan nama Vow, tapi kali ini dengan nama panggilan yang Erika berikan kepadanya. Bow‒ gagal. Cow‒ gagal.

Kata sandi salah, kata sandi salah. Ada terlalu banyak kombinasi, bahkan dengan nama Vow saja aku bisa memikirkan belasan kombinasi lainnya. Tapi hari ini hanya tersisa satu kali sisa percobaan saja. Akan kucoba memikirkannya dengan lebih baik kali ini.

Aku melompat ke kasurku. Sembari memandangi langit-langit aku teringat akan langit di sore ini. Langit yang menangis, langit yang memberikan kesempatan padaku untuk merasakan kehangatan.

 Kenyamanan yang kurasakan bersama Vow tadi. Vow orangnya baik, wajahnya tampan, tubuhnya atletis dan rambutnya pendek di pinggir, aku juga yakin dia pintar. Aku pasti sangat bersyukur bisa berpacaran dengan orang seperti itu.

Atletis?‒ Kenapa aku malah teringat dengan Reiki.

Aku bangun dari kasurku, dan kembali duduk di depan laptopku. Aku sudah kesal berkali-kali gagal memasukkan kata sandi. Jadi tidak ada salahnya aku sengaja menggagalkan yang satu ini.

Siapa yang harus kumasukkan namanya, Pak Han? Guru yang kayaknya ada masalah dengan Novie. Fika? Ibuku atau Rendi ayahku.Dengan sedikit tersenyum, kugerakkan jari jemariku untuk menuliskan nama seseorang, R-E-I-K‒ hmm… Aku baru ingat, aku tidak ingat nama lengkap Reiki.