BAB 4.1

BAB 4.1

Pagi ini adalah pagi yang baik‒ kan? Bukan hanya aku bangun kesiangan, tapi bahkan sejak aku bangun hujan masih mengguyur. Aku diantarkan dengan mobil ayahku, jadi kurasa itu adalah hal yang baik. Tapi tidak ada payung di mobil jadi aku terpaksa menggunakan weather shield tasku untuk menyebrang dari jalan.

Setidaknya aku tidak kebasahan, walau aku harus melepaskan sepatuku. Aku tidak keberatan bermain-main dengan air, guru dan orang tuaku yang keberatan. Bahkan berbecek-becekan sebentar saja tadi, aku merasa seperti menjadi anak kecil lagi.

Aku berjalan di balkon kelas tanpa menggunakan sepatu. Kakiku masih basah, aku harus mengeringkan kakiku dulu sebelum memakai kaos kaki. Walau aku sedikit ragu menggunakan sapu tangan ayahku untuk mengelap kakiku.

Ketika aku sampai ke ujung balkon lantai 2, aku masuk melewati pintu kelasku yang hanya terbuka sebelah. Masih banyak yang belum datang, biasanya jam segini kelasku sudah ramai. Oh ya‒ karena hari ini hujan, upacara bendera pasti tidak dilaksanakan, mereka pasti berpikir untuk sekolah di jam kedua.

Walaupun begitu, di belakang kelas sudah ada beberapa orang yang berkumpul dan mengobrol. Vow, Novie dan Reiki sedang mengobrol di belakang kelas. Aku segera meletakkan tasku di mejaku, dan berjalan ke arah mereka, masih dengan kaki telanjang.

“Kalian lagi ngapain?” kataku mengagetkan mereka. Vow yang bersenderan di meja menyembunyikan wajahnya dariku. Reiki yang duduk di atas meja melihat wajah Vow, tersenyum dan berkata “Lagi ngomongin kamu pas SMP”. Vow menyiku Reiki dan berbisik “diem” dengan cukup keras.

“Kalian cepet banget akur ya” kataku sedikit iri dengan seberapa cepat Reiki bisa beradaptasi dengan lingkungan barunya ini. Aku saja masih belum sepenuhnya nyaman dengan kelas ini.

“Iya, ini berkat Novie” kata Reiki. Kurasa benar juga, kalau tanpa Novie mungkin aku bakalan jadi penyendiri dan jarang pergi ke sekolah.

“Kamu bisa balas budi dengan nraktir aku!” jawab Novie dengan senyuman lebar di wajahnya.

“Sepatu itu untuk dipakai di kaki, bukan ditenteng di tangan” kata Reiki melihatku masih membawa sepatu di tangan kananku. Mendengar itu, aku segera duduk di kursi yang paling dekat denganku. Aku menjelaskan tentang lupa membawa payung sembari mengelap kakiku dengan sapu tangan ayahku.

Dingin pikirku, kurasa aku membiarkan kakiku kebasahan terlalu lama. Tapi setelah aku mengeringkan kakiku, dan memakai kaos kananku, aku langsung merasa kehangatan. Perasaan ini mengingatkanku pada Vow dan jaketnya. Aku melirik Vow yang sedang tidak memakai jaketnya sekarang. Kenapa kamu gabawa jaket sih.

Aku terkaget ketika Vow tiba-tiba berdiri dan melirik ke belakangnya. Karena kebingungan, aku malah melihat-lihat ke sekeliling.

Ternyata di depan kelas ada beberapa orang yang masuk. Mereka bertiga memakai pakaian yang sama, baju putih dengan almamater berwarna kehitaman. Salah satu diantara mereka ada yang membawa kamera, dia langsung berjalan menuju ke arahku.

Ada juga yang perempuan, ia berdiri di depan kelas dan dengan percaya diri berkata “Adik-adik, kakak mahasiswa psikologi dengan seijin bapak kepala sekolah ingin melakukan sebuah survey…”.

Mendengar itu Vow segera permisi keluar kelas ini, aku segera memakai kaos kaki kiriku, Reiki turun dari meja ke kursinya, dan Novie, entah sejak kapan dia sudah duduk di bangkunya yang berada di sebelah tasku.

Setelah menjawab survey yang cukup panjang dan personal, aku dan teman-teman sekelas yang hadir mengumpulkannya kepada Natasha. Setelah menerima hasil survey, kakak-kakak itu mulai menjelaskan tentang jurusan psikologi.

Psikologi sosial? Psikologi klinis? Kurasa aku masih punya waktu untuk memikirkannya. Sedangkan Novie, terlihat tidak tertarik sama sekali, walau kurasa dia menikmati waktunya. Novie merobek selempir kertas dari buku yang ada di mejaku, bukuku.

Novie menulis sesuatu di kertas yang dia ambil dari bukuku itu, lalu menyerahkan kertas itu padaku. Buang aja sendiri.

“Maaf aku gabales pesan kamu. Kamu jadi kencan gak?” tertulis di kertas itu. Ketika kulihat ekspresi wajah Novie, kurasa dia ingin aku menjawabnya lewat kertas ini, atau dia hanya kebosanan

“Iya, kemarin aku kencan” tulisku. Ketika kuserahkan kertas itu pada Novie, dia hanya menatap kertas itu dengan cukup lama.

“Tadi Vow kalian ngomongin apa? Aku beneran dibahas?” tulisku setelah kuambil kembali kertas itu, karena terlalu lama menunggu jawaban Novie.

“Kamu bukan cuma punya Vow, tapi juga Reiki. Aku jadi iri sama kamu” tulisnya. Vow adalah pacarku, dan Reiki sepertinya mengenalku saat SMP. Kurasa masuk akal jika orang-orang lain melihatku, mereka akan iri aku dekat dengan laki-laki seperti mereka. Aku tersadar tidak mengenal Vow sedekat itu‒ aku ingin lebih mengenal Vow.

“Vow itu orangnya kayak gimana?” bisikku ke Novie.

Aku dan Novie lalu membicarakan Vow. Aku baru tahu Vow dan Novie bersekolah di SMP yang sama, mereka sudah satu kelas selama 5 tahun. Vow juga memiliki tanggal lahir yang unik, 25 Desember. Makanan kesukaan Vow, minuman kesukaan Vow dan masih banyak lagi.

“Kamu tahu banyak tentang Vow ya, aku yang pacarnya malah gak tahu apa-apa”

“Enggak juga kok, lagipula Vow udah punya kamu” jawabnya dengan senyum tipis di wajahnya, dengan matanya yang memandang kertas tadi.

“Mungkin aku bakal nyari si Reiki aja” katanya sembari tertawa kecil.

“Sekalian aja cari Pak Han” jawabku menahan tawa.

Aku dan Novie jadi membahas tentang Reiki. Kurasa Novie memang perhatian dengan teman-temannya. Ia bukan hanya tahu banyak hal tentang Vow, tapi juga tentang Reiki. Aku sendiri baru tahu nama lengkapnya Reiki Alter. Ia berasal dari sebuah sekolah di Bandung, dan pindah kesini karena pekerjaan orang tuanya.

Lalu Novie tertawa, “Dia ulang tahun tanggal 1 Januari, jadi pas dia ulang tahun seluruh dunia juga ikut merayakannya”.

Suasana hujan ini menemani malamku yang menyebalkan. Setiap harinya kelasku mendapatkan empat mata pelajaran. Tadi pagi aku mendapatkan PR untuk keempat mata pelajaran itu. Yang jadi masalah adalah, jadwal untuk besok tidak berbeda jauh dengan hari ini. Aku harus menyelesaikan tiga PR dari tiga pelajaran yang masing-masing seharusnya punya waktu seminggu, dalam waktu satu malam.

Halaman demi halaman buku Matematika kubuka, tiga halaman hanya untuk membahas satu soal?!

Saat kubuka halaman selanjutnya, ada sebuah kertas terselip disana. Kertas itu adalah kertas milikku yang diambil oleh Novie, sudah kubilang buang aja sendiri.

Aku membaca kembali tulisan tulisan di kertas itu. Pasti akan mudah jika semua obrolanku tersimpan seperti ini. Kurasa aku akan menyimpannya di suatu tempat, kenangan ini terlalu berharga untuk dilupakan.

Setelah aku meletakkan kertas itu di laci mejaku, aku melirik laptop yang berada di samping buku-buku ini. Mungkin aku menggunakan kombinasi nama dan tanggal lahirnya Vow.

Kubuka layar laptop ini dan menghidupkannya. Sudah berminggu-minggu aku mencoba membuka kata sandi laptop ini, dan lombanya akan berlangsung kurang dari seminggu lagi. Aku tak yakin apakah waktunya cukup.

Sekali lagi aku disambut oleh layar ini. Aku langsung mencoba menggunakan kombinasi nama lengkap Vow dan tanggal lahirnya. Dan tentu saja, gagal. Kenapa aku bikin password seribet ini sih.

Karena lelah aku meregangkan tubuhku. Ketika aku melihat keluar jendela aku bisa melihat hujan sedang lebat-lebatnya. Tiba-tiba sebuah cahaya terang muncul, sebuah kilat. Dengan cepat aku melompat ke kasur dan bersembunyi dibalik selimutku.

Dibalik selimut ini, aku bisa mendengar sebuah suara petir yang sangat keras, untung aku berlindung.

Suara gemuruh masih terdengar di luar shelter-ku ini. Aku memutuskan untuk bersembunyi di balik hangatnya selimut ini untuk sementara waktu.

Kehangatan lain melintasi pikiranku. Reiki‒ maksudku Vow. Reiki? Aku kepikiran dengan perkataan Novie tadi pagi. Yang Vow dan Reiki tahu adalah aku, tapi yang tahu mereka adalah Novie.

Novie juga mengatakan nama lengkap Reiki adalah Reiki Alter tadi pagi, mungkin akan kucoba sekali lagi. Aku bangun dari kasurku, dengan kedua tanganku kupegang erat-erat selimutku.

Masih berlindung di balik selimut ini, aku menutup gorden jendela kamarku lalu duduk di kursi meja belajarku, lagi.

Kulepas tangan kananku dari selimut ini, lalu kupegang kembali dengan tangan kiriku. Dengan tangan kananku yang sekarang terbebas ini, aku mengetikkan nama Reiki.

reikialter, gagal. reikialter11‒ Dalam keterkejutanku, perlindungan dari shelter-ku jatuh, sebuah cahaya menyelinap dibalik gorden kamarku, dan berhasil‒ laptopku terbuka.