BAB 3

BAB 3

Natasha masuk kedalam kelas bersama seorang laki-laki yang tidak aku kenal‒ tapi siapa sih yang aku kenal? Sedari pagi tadi, bahkan sejak aku mulai kembali bersekolah, aku hanya berbicara kepada beberapa orang saja yaitu Novie, Natasha dan Vow.

Teman-teman sekelasku sudah mulai kehilangan rasa penasarannya padaku. Aku bersyukur karena sekarang aku bisa tenang tidak ditanyai pertanyaan-pertanyaan oleh mereka. Walaupun sudah lumayan lama aku kembali belajar disini, mereka masih terasa seperti orang asing. Dalam artian yang buruk.

Jadi mungkin saja laki-laki yang dibawa oleh Natasha ini hanyalah orang asing lain yang sudah kulupakan‒ terlupakan.olehku. Tapi saat memperhatikan laki-laki ini, aku merasa pernah bertemu dengannya di suatu tempat. Sebuah perasaan aneh yang sama seperti saat pertama kali masuk ke sekolah ini bersama Novie.

Laki-laki ini jauh lebih tinggi dari Natasha, mungkin lebih tinggi dariku, Novie bahkan Vow. Rambutnya yang hanya panjang di depannya saja, sedangkan pendek di sekitar kepalanya.

“Seperti yang kalian tahu, Viri pindah sekolah bulan lalu…” Natasha mulai berbicara di depan kelas. Aku tersadar sejak Natasha masuk ke kelas, kelas menjadi lebih tenang.

“Dan ada siswa pindahan ke sekolah kita. Karena kelas kita kurang satu orang, bapak kepala sekolah meminta memasukkannya saja ke kelas kita”. Jadi laki-laki ini adalah siswa pindahan. Pantas saja teman-teman yang lain ikut terdiam. Dan apakah bapak kepala sekolah yang dimaksud Natasha adalah guru yang memberiku hadiah lomba film saat upacara itu? Ngomong-ngomong dengan hadiah itu, aku belum membukanya sampai sekarang.

Jika dia adalah siswa pindahan, itu berarti dia belum mempunyai teman disini dan belum terbiasa dengan lingkungan sekolah disini. Aku tersadar siswa pindahan ini dalam situasi yang mirip denganku.

Aku takut untuk berbicara dengan teman-teman sekelasku karena takut menyinggung perasaan mereka. Terutama ketika mereka berekspektasi jika aku tahu mereka‒ tidak, aku tidak tahu, aku benar-benar lupa.

Laki-laki ini, dilain pihak akan sulit untuk mulai berteman di kelas ini. Kami‒ mereka sudah berteman selama setahun terakhir, mereka sudah membentuk kelompok-kelompok pertemanan mereka sendiri. Akan sulit untuk masuk ke gelembung-gelembung itu. Kurasa aku bisa menjadi temannya.

“Silahkan perkenalkan dirimu” kata Natasha, ia mempersilahkan laki-laki itu maju beberapa langkah. Laki-laki ini melihat sekeliling, lalu ketika mata kami bertemu ia tersenyum dan berkata “Sepertinya tidak semuanya orang baru”.

“Namaku Reiki, aku suka basket” lanjutnya. Reiki, ia berkata kalau dia suka basket. Mungkin itu yang menyebabkan tubuhnya terlihat atletis.

Reiki menutup perkenalan singkatnya dengan berharap agar bisa segera membuat teman baru. Kuharap aku bisa membuat doa yang sama, sayangnya calon-calon teman baruku adalah teman lamaku.

Karena perkenalannya sudah selesai, ia diminta oleh Natasha untuk segera duduk. Hanya ada satu meja kosong di kelas ini, meja paling belakang di barisanku, dipisahkan oleh satu meja dengan mejaku.

Mendengar kata-kata Natasha Reiki mulai berjalan ke kursi belakang. Ketika ia melewati meja yang berada di depanku, aku sudah bisa mulai mendengar rasa penasaran kelas ini memuncak.

‘Kamu dari mana?’, ‘Kenapa kamu pindah?’ dan banyak lagi bisikan-bisikan pertanyaan yang kudengar. Aku pernah ditanya-tanyai seperti itu, dan aku tahu pasti apa yang dirasakan Reiki saat ini. Dia pasti merasa risih, dikelilingi oleh intel.

Kulirik wajahnya memastikan wajah seperti apa yang dia buat, apakah wajah bingung sama sepertiku? ‒Tidak‒ dia terlihat tenang sekali, malahan ia tersenyum.

Dia melirik ke arahku, kami berkontak mata. Sepertinya yang membuat wajah bingung bukan dia, tetapi malah aku ketika mendengar dia berbisik, “Lama tak jumpa Erika”

Jam istirahat dimulai, seperti biasa yang aku lakukan hanya mengobrol dengan Novie saja, tak ada bedanya dengan saat jam belajar. Tapi ada sesuatu yang tidak biasa hari ini, Reiki. Ia menarik bangku di meja depanku memutarnya dan duduk menghadapku.

“Aku seneng banget ada kamu, waktu orang tuaku maksa pindah sekolah aku takut banget bakal kesepian. Tapi sekarang aku malah bersyukur bisa pindah, iya, aku bersyukur banget, aku bersyukur banget ada kamu.”

Mendengar perkataan Reiki, sekali lagi aku dibuatnya bingung. Apa ini prank? Sepertinya kebingunganku menyebar, sekarang Reiki juga ikut terlihat bingung. Untuk memastikan ini bukan bercanda, kutatap mata Novie.

Tidak‒ ini bukan bercanda. Jika ini bercanda aku yakin Novie pasti tidak bisa menahan tawanya, tapi yang aku lihat di wajah Novie hanyalah kebingungan. Aku tak tahu kebingungan bisa menyebar semudah itu.

Setelah hening untuk sesaat, Novie mulai berbicara. Pada awalnya Novie menganggap ini sebagai candaan saja, sama sepertiku. Bagaimana seorang siswa pindahan mengenalku?

Setelah bercakap-cakap untuk waktu yang cukup lama, Novie menjelaskan tentang kondisiku. ‘Erika mungkin terbentur kepalanya dan lupa ingatan’ jelasnya. Mendengar itu, Reiki terdiam sesaat, mungkin aku juga akan berpikir cukup lama jika mendengar seseorang lupa ingatan.

Diam Reiki, lama-kelamaan berubah menjadi kesedihan. Aku tahu dia berusaha menyembunyikan kesedihannya ketika dia berkata “Apa kamu juga melupakanku?” dengan senyuman tipis yang pahit. Inilah yang membuatku tak ingin berbicara dengan teman-teman lamaku.

Kuharap aku bisa berkata kalau aku hanya bercanda dari tadi dan menertawakan keseriusan kita tadi, tapi tidak. Hanya ada satu kata yang bisa kukatakan saat ini. “Maaf” kukatakan dengan lemah dari mulutku.

Mendengar permintaan maafku, aku bisa mengerti jika dia marah padaku sekarang. Tapi Reiki hanya berkata “Padahal aku udah kesenengan ketemu kamu, dulu kita pisah pasti karena kamu dipaksa pindah sekolah juga” dengan kecewa. Aku tak bisa menjawabnya, aku tak ingin menyakiti perasaan teman lamaku lebih dalam lagi.

Sekali lagi, hanya ada keheningan. Hingga akhirnya keheningan itu dirusak oleh Vow. Dia biasa datang untuk melihatku setiap hari, walau bukan berarti kelasnya jauh.

Vow pasti mendengar kabar bahwa ada siswa pindahan di kelasku. Dia memperkenalkan dirinya kepada Reiki.

“Salam kenal, namaku Vow. Aku pacarnya Erika” kata Vow sembari menjulurkan tangannya. Mendengar itu, Reiki terlihat sedikit kaget dan untuk sesaat dia hanya melihat tangan Vow. Hingga akhirnya dia menyalami tangan Vow dan berkata “Namaku Reiki, aku teman SMP Erika”

Semakin lama kutatap layar laptopku, semakin aku berpikir mengenai hint yang kubuat. Seseorang yang selalu kusayangi. Tentu saja seseorang akan menyayangi pacarnya. Tetapi ada sesuatu yang menarik perhatianku dengan caraku menuliskan hint ini.

Jika aku ingin menggunakan nama pacarku, Vow sebagai password aku bisa saja menuliskan hintnya sebagai nama pacarku. Tidak juga, kurasa membuatnya ambigu bisa membuat laptop ini lebih aman. Walaupun itu hanya akan menyulitkanku.

Tetapi kenapa aku harus membuatnya seaman itu. Palingan hanya ada tugas sekolah dalam laptop ini. Dan kuharap, film yang harus kupresentasikan. Mungkin juga beberapa album-album foto bersama keluarga dan teman-temanku.

Teman? ‒ Mungkin yang kugunakan sebagai password bukanlah pacarku, melainkan seseorang yang selalu aku sayangi. Teman atau pacar, mungkin sekarang aku akan memilih Novie mengingat perhatian yang telah ia berikan padaku. Terutama ketika ia menjelaskan situasiku kepada Reiki tadi pagi.

Satu persatu huruf kutekan dengan jari-jariku, N-O-V-I-E. Kutuliskan nama Novie dan beberapa kombinasi dari nama lengkapnya. Dan tentu saja tidak berhasil.

“Siapa sih orang yang kusayangi?” kataku kepada Novie. Novie tidak mengubah jawabannya, ‘Udah kubilang Vow’. Aku sudah berkali-kali mencoba menggunakan nama Vow, tapi terus saja gagal. Tanpa sadar aku menghela nafasku.

“Tanya saja Reiki, kayaknya dia kenal kamu dari SMP” kata Novie. Itu mengingatkanku pada perkataan Reiki kemarin. Aku sendiri cukup penasaran dengan Erika sewaktu SMP.

Ketika jam istirahat, seperti biasa Reiki datang mengobrol ke grupku. Tepat ketika ia duduk di kursi depanku, aku bertanya padanya “Kamu kemarin bilang kenal aku saat SMP?”.

“Bukan hanya kenal. Dulu kita satu SMP lalu kamu pindah sekolah begitu saja. Kamu mengirimiku pesan selamat tinggal, dan itu pesan terakhirmu padaku” kata Reiki. Dari perkataan Reiki aku tahu aku pernah berpindah sekolah di pertengahan SMP. Aku tahu aku pindah ke SMP Novie karena dia mengatakannya padaku, tapi aku tak tahu apa yang terjadi sebelum itu.

“Apa kamu tahu siapa orang yang dekat denganku saat SMP?” kataku. Tapi Reiki malah balik bertanya “Keluargamu apa kabar?”. Baik-baik saja, aku perlu bicara lebih banyak dengan ayahku dan ibuku perlu lebih banyak beristirahat. Tapi mereka baik-baik saja, aku penasaran kenapa Reiki bertanya tentang keluargaku, “Kenapa?” kataku padanya.

“Dulu kamu sering curhat tentang ayah sama ibumu denganku. Katamu mereka sering bertengkar, tapi kurasa mereka sudah baikan”. Mendengar penjelasannya membuatku bertanya-tanya akan satu hal. “Kenapa aku harus curhat denganmu?” keluar dari mulutku.

Aku bersyukur sepertinya Reiki tidak mendengar apa yang kukatakan. Kata-kataku terdengar seperti aku meragukan perkataannya, yang mungkin bisa menyakiti perasaannya.

Bagaimanapun juga masih ada waktu sebelum bel berbunyi. Novie dan Reiki menghabiskan waktu dengan bercakap-cakap tentang makanan dan minuman kesukaan mereka. Sedangkan aku menghabiskan waktu dengan makan dan minum. Secara kebetulan, makanan yang sedang mereka bicarakan ada dalam bekalku. Dengan sengaja aku memamerkannya di depan Novie.

Fika, Rendi, FikaRendi. Aku mencoba memasukkan nama orang tuaku sebagai password. Tentu saja sampai batas percobaannya terlewati aku tak bisa menemukan kombinasi yang tepat. Tentu saja aku menyayangi kedua orang tuaku, tapi aku ragu aku akan menggunakan nama orang tuaku sebagai password. Selain itu petunjuknya adalah orang yang selalu kusayangi, bukan orang-orang yang selalu kusayangi.

Karena sudah mencapai batas percobaannya, kurasa aku harus menunggu sampai besok untuk mencoba beberapa kombinasi dari nama orang tuaku lagi.

Aku berdiri dan mengeringkan rambutku diatas kasur. Di atas kasurku ada sebuah smartphone yang diberikan oleh ayahku beberapa hari yang lalu. Smartphone lamaku hilang dan mungkin sudah rusak saat jatuh. Sayang sekali, aku yakin pasti ada banyak hal personal tentangku dalam handphone itu.

Tadi pagi aku sudah memberi kontak handphoneku kepada Novie, kuharap dia segera menghubungiku. Itu mengingatkanku, ada lampu yang berkedip di handphoneku dari tadi.

Ketika aku membuka handphoneku, ada sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak kukenal. Aku baru memberi nomorku pada Novie saja, dan aku sudah menyimpan nomor Novie. Jadi aku tidak tahu siapa yang memiliki nomor ini. Mungkin Novie yang memberikannya pada teman-teman yang lain.

Ketika aku membuka notifikasi pesan masuk itu, aku langsung tahu siapa yang mengirimkannya. Orang itu ingin mengajakku ketempat kami sering pergi dulu. Seketika aku menyesal menyebarkan nomorku.

Dia tidak tahu kalau aku menerima pesannya kan? Kalau begitu bagaimana kalau aku berpura-pura tidak melihatnya saja. Tidak‒ Dia bermaksud baik ingin mengembalikan ingatanku.

Karena tak yakin apa yang harus kulakukan, aku mengirimi Novie pesan. Aku memang mengharapkan pesan dari Novie, jadi tidak ada salahnya jika aku yang mulai membuka percakapannya. Kukirimi Novie pesan “Aku diajak kencan sama Vow. Aku harus gimana?”.