BAB 2

BAB 2

Kuangkat lengan atasku sejajar dengan bahu, dan kulipat yang bawah membentuk huruf V. Tanganku terbuka dengan jari-jari di depan pelipis. Aku tak menyangka hanya aku yang terlihat kelelahan disini. Bukannya aku tak ingin ikut upacara rutin, tapi jangan lupa aku belum lama ini keluar dari rumah sakit.

Di lapangan sekolah yang seluas ini, aku yakin setidaknya ada seribu orang yang berkumpul disini sekarang. Dari semua kerumunan itu, membentuk barisan berdasarkan kelas mereka. Barisan kelasku sendiri berada di tengah agak ke kanan, karena kakak kelas berada di sebelah kanan, dan adik kelas ada di sebelah kiri.

Teman-teman sekelasku semuanya hadir untuk ikut upacara ini, mereka semua berbaris di depanku termasuk Novie dan Natasha. Sedangkan aku dengan sengaja mengambil barisan agak di belakangmaksudku paling belakang. Aku merasa bisa melihat mereka semua di depanku lebih baik daripada mereka yang melihatku dari belakang.

Sudah cukup lama upacara berlangsung. Kulihat di sekelilingku, kulihat sebelah kiriku lalu diikuti dengan sebelah kananku. Sepertinya sekarang bukan hanya aku yang merasa kelelahan. Vow yang berada di barisan sebelah kiriku, sudah tidak melakukan pose bersiap lagi, dia hanya bertumpu pada salah satu kakinya saja. Aku yakin dia juga pasti kelelahan.

Novie sepertinya menikmati waktunya. Novie yang berbaris agak jauh di depanku sedang mengobrol dengan laki-laki yang ada di dekatnya. Aku tak bisa mendengarkan apa yang sedang mereka bicarakan karena mereka berbisik-bisik.

Sedangkan Natasha, dia berdiri paling depan. Mungkin karena dia adalah ketua kelasku, atau juga mungkin karena tingginya yangpendek. Tangannya menyilang di belakang tubuhnya. Frame kacamatanya yang hitam bisa kulihat karena dia menghadap ke kiri, memperhatikan pembina upacara yang berada di tengah lapangan.

“Erika Mandela dari kelas 11” terdengar dari speaker yang tiba-tiba berhasil mencuri perhatianku, diikuti suara tepuk tangan yang cukup meriah. Ketika aku mengalihkan pandanganku ke depan untuk menanyakan apa yang terjadi. Teman-teman sekelasku memandang ke arahku, sembari bertepuk tangan dengan semakin keras. Padahal aku yakin aku berdiri paling belakang.

Ketika aku melirik ke belakang, hanya ada anggota PMR yang berjaga, dan mereka juga bertepuk tangan. “Rikka kamu masuk final!” teriak seseorang dari depanku, dari panggilannya saja aku tahu ini pasti Novie.

Novie menarik tangan kananku, dan dengan kedua tangannya dia menggoyangkan tangan kami. Wajahnya tersenyum tepat di depanku. Kenapa dia menyalamiku? Sepertinya aku tenggelam terlalu lama dalam lamunanku.

Di speaker namaku dipanggil sekali lagi dan diminta untuk maju ke depan. Mendengar itu, Novie menarik tanganku ke depan dan mendorong memaksaku keluar barisan. Saat aku sampai di depan barisan, aku melirik ke belakang. Mereka masih bertepuk tangan, mata-mata mereka mengarah padaku Aku menjadi pusat perhatian.

Sebuah podium berdiri di depan tiang bendera, tepat di tengah lapangan. Di atasnya berdiri seorang guru yang menunjuk ke arah kirinya, membuatnya seakan memintaku berdiri disana. Apa aku dihukum? Apa aku terlalu lama melamun?!

Aku berdiri di sebelah kiri podium itu. Orang-orang masih saja terus melihatku, atau mungkin lebih melihatku. Jantungku berdegup semakin kencang ketika aku sadar bahwa lapangan ini bisa menampung lebih banyak orang dari yang kupikirkan. Apa yang harus kulakukan sekarang?

Guru disamping kananku mulai berbicara lagi, bahkan tanpa microphonenyapun aku bisa mendengar apa yang dikatakannya. “Erika Mandela masuk lima besar nasional lomba membuat film dengan tema remaja. Dan akan ikut presentasi di Jakarta bulan depan untuk menentukan juaranya. Tapi bahkan sekarangpun sekolah sangat mengapresiasi prestasinya”

Seorang perempuan yang sedari tadi berdiri di samping lapangan, berjalan membawa sebuah nampan menuju ke tengah lapangan. Guru tadi turun dari podiumnya, mengambil sebuah sertifikat dan sebuah amplop dari atas nampan tadi. Ia memberikannya kepadaku lalu kami bersalaman. Aku mendengar suara tepuk tangan meriah sekali lagi. Aku masih bersalaman dengan guru ini, berpose di depan sebuah kamera. Kutatap lensa kamera dan kupaksa diriku untuk tersenyum.

Aku berjalan kembali ke barisan kelasku. Novie bertepuk tangan paling meriah, sedangkan Natasha tersenyum sembari bertepuk tangan dengan lembut. Mereka menyalamiku sekali lagi. Ketika aku sampai kembali ke barisanku, aku terdiam sesaat, dan tanpa sadar mulutku berkata Apa itu barusan?

“Kamu dapat hadiah tapi gak tau kamu menang apa?!” teriak Novie sembari tertawa dengan keras

“Mau gimana lagi, dia bahkan ga inget nama kita” kata Natasha tiba-tiba menghentikan tawa Novie. Aku sendiri terdiam mendengar kata-katanya. Aku harus jawab apa?

Novie yang baru saja tertawa lepas tiba-tiba diam, mulutnya masih agak terbuka. Aku yakin Novie pasti lupa kalau aku hilang ingatan. Ekspresinya saat ini mengingatkanku saat pertama bertemu Novie.

Suasana tak nyaman itu diperbaiki oleh Natasha sendiri, “Ya aku sudah tahu kamu akan menang dan bakalan sibuk sama presentasimu, karena itu aku gak milih kamu ngewakilin lomba film kelas kita”. Mendengar ini, ekspresi Novie kembali normal.

“Sebelum kamu lupa ingatan kamu ngewakilin sekolah ikut lomba film. Temanya tentang remaja dan masalah-masalah di sekitarnya. Kamu menang fase eliminasi, dan untuk menentukan juaranya kamu harus presentasi filmnya di Jakarta bulan depan” jelas Novie.

Ketika aku mengeringkan rambutku dengan handuk berwarna hitam di atas kasurku. Aku bisa melihat cermin di periferal mataku. Teringat dengan rasa nyaman yang diberikan Novie sesaat itu.

Aku berjalan secara perlahan mendekati cermin yang berada di sisi lain dari kamarku. Melewati sebuah lemari di sisi kiriku, tempatku menyimpan pakaian dan seragam sekolahku. Di sudut mataku kulihat sebuah meja, diatasnya ada lampu jongkok yang hidup menyinari sebuah laptop dan beberapa buku yang belum pernah kuambil.

Aku terdiam sesaat melihat kursi di depan cermin itu. Ketika aku melihat ke cerminaku melihat bekas memar di dekat perutku. Bekasnya sudah mengecil dibandingkan beberapa hari lalu, ketika kusentuh juga tidak terasa sakit yang menusuk. Aku juga sudah bisa bergerak dengan lebih bebas tanpa merasakan sakit di sekitar memar ini.

Ketika aku memikirkan Novie, aku teringat dengan kata-katanya di sekolah. Aku harus membuat presentasi untuk persiapan lomba di Jakarta bulan depan.

Kuambil piyama di dalam lemari, sebuah piyama berwarna gelap tanpa motif atau tekstur apapun. Walaupun begitu aku menyukai piyama ini, terutama karena cuaca hujan yang dingin, dan piyama ini memberikan aku rasa hangat. 

Saat aku memakai piyama ini, aku berpikir presentasi apa yang harus kubuat. Karena ini film tentang remaja, aku perlu menjelaskan latar belakang dari konflik di film ini. Mungkin juga tokoh-tokoh yang berperan di dalamnya. Tujuan dan unsur-unsur film ini juga perlu kujelaskan, kurasa‒ Ah, aku tak ingat film apa yang sudah kubuat.

Bagaimana aku bisa mempresentasikan film ini, ketika aku tak ingat film apa yang sudah kubuat. Sialan diriku dulu, kenapa kau memberiku masalah seperti ini. Oh ya, laptop! Karena film ini yang membuatnya adalah aku, seharusnya filmya masih ada di laptopku.

Aku duduk di meja belajar di belakangku. Filmnya seharusnya masih ada di laptopku, itupun jika ini adalah laptopku. Kubuka layar dari laptop ini, kutekan sebuah tombol di pojok kiri atasnya yang seakan berteriak tekan aku.

Kutunggu beberapa saat, sebuah layar muncul di depan mataku. Sebuah layar dengan latar belakang tebing, efek blurnya membuatnya terlihat menarik. Nama Erika Mandela terpampang tepat di tengah layar, dibawah sebuah foto dari wajah yang sama seperti yang kulihat di cermin. Dibawahnya ada sebuah kotak bertuliskan password‒ Sepertinya dulu aku adalah orang yang menyebalkan, iya aku tahu, aku sebal dengan diriku sendiri sekarang.

Ada sebuah tanda tanya di samping kotak itu. Ketika kutekan tombol itu, ada sebuah pesan yang muncul, ‘Hint: Seseorang yang selalu aku sayangi’.

Seseorang yang selalu kusayangi? Saat ini aku sedang berpacaran dengan Vow dari kelas sebelah, setidaknya itu yang dikatakan teman-temanku. Kucoba mengetikkan nama lengkapya. Saat kutekan enter, password salah muncul

“Siapa sih orang yang selalu kusayangi?” tanyaku kepada Novie. Kurasa Novie mengenalku lebih dari aku mengenal diriku sendiri, karena itu aku bertanya padanya.“Kenapa nanya begitu?” jawabnya dengan ekspresi bingung. Setelah diam beberapa saat, dia melanjutkannya dengan berkata “Mungkin si Vow”. “Iya kan” diikuti helaan nafas dariku. “Mungkin kamu isi angka atau simbol, kamukan suka yang ribet-ribet”‒ Aduh Erika, kamu bikin aku susah saja.