BAB 1

BAB 1

Seorang pria berdiri di depanku, pria yang sama yang menyuntikku beberapa hari yang lalu, dia adalah dokter yang merawatku. Ia sudah menjelaskan banyak hal dari tadi, salah satu penjelasan yang masih kupikirkan bahkan sampai saat ini adalah– Pria dan wanita yang duduk di sebelahku ini, adalah ayah dan ibuku

“Mereka adalah ayah dan ibumu” kata dokterku. Pada awalnya aku berpikir dia hanya bercanda, tentu saja dua orang yang tidak kukenal ini bukan orang tuaku, hingga akhirnya aku dibuatnya percaya saat ia bertanya siapa nama ayahku padaku. Aku masih tak percaya, bahkan sampai saat ini, aku tak bisa mengingatnya.

Pria yang katanya adalah ayahku ini, terlihat sangat tenang dari tadi. Aku tak yakin apakah dia pernah berekspresi sedari tadi ia duduk disana. Tapi wajah mudanya itu terlihat asing bagiku.

Kontras dengan pria itu, wanita disampingnya terlihat seperti akan menangis. Rambutnya yang agak panjang dengan kulit yang masih mulus membuatku berpikir bahwa dia adalah teman sebayaku pada awalnya. Pria dan  wanita ini– Rendi dan Fika, adalah orang tuaku, setidaknya itu yang dikatakan dokterku.

Dokter juga menjelaskan ketidak ingatanku mungkin karena trauma yang cukup berat di kepalaku. Terbentur dengan benda keras adalah yang paling masuk akal menurutnya, tapi dia tak bisa mengabaikan kemungkinan psikologis juga.

Seorang wanita yang wajahnya masih kuingat betul masuk kedalam ruangan ini. Dia berjalan mendekati dokterku yang sudah diam seperti  bersiap menerima kabar. “Maaf” kataku karena telah mendorongnya, akhirnya aku bisa mengeluarkan rasa bersalah karena telah mendorong seseorang yang telah merawatku, mungkin selama beberapa minggu terakhir. Dia tersenyum padaku seakan berkata tak apa.

“Ada sekelompok anak-anak sekolahan yang ingin menjenguk Erika” kata wanita itu. Saat ia berkata Erika aku tak langsung sadar, tapi yang ia maksud adalah diriku– Jangan bilang anak-anak sekolahan itu akan masuk kesini

“Itu kabar bagus, mungkin bertemu kawan kawanmu bisa membuatmu mengingat kembali ingatanmu” kata dokter itu. Mendengar itu, wanita itu keluar dari ruangan ini. Aku bisa tahu kemana ia akan pergi, ia akan memanggil orang-orang yang tidak kukenal, masuk ke dalam ruangan ini. Aku tahu aku tak mengingat mereka, bagaimana kalau mereka tersinggung aku tak mengingat mereka?

“Dokter, saya le…” sebelum aku berhasil menyelesaikan kalimatku, pintu ruanganku sudah terbuka kembali. Sekarang wanita itu tak sendirian, ada banyak orang yang mengikutinya, mereka sebaya denganku.

Rendi dan Fi— maksudku, ayah dan ibuku mengikuti dokterku yang memang meminta mereka mengikutinya, sekarang aku ditinggalkan sendirian, bersama orang-orang yang tak kukenal.

Setidaknya ada sepuluh teman yang berada di ruangan ini, aku merasa sesak, bukan karena ruangan ini sempit— tidak, ruangan ini cukup luas, hanya saja ada perasaan yang menggangguku, perasaan tak nyaman melihat wajah-wajah asing mereka, maaf aku tak ingat satupun dari kalian.

“Siang Erika, kami menerima kabar dari guru kalau kamu sudah siuman, kami datang menjengukmu. Kamu masih ingat aku? Aku Natasha, ketua kelas kamu” Kata seorang perempuan yang berdiri di depan yang lainnya. Ketua kelas? Dia pasti ketua kelas yang sangat baik, sangat peduli untuk menjengukku.

“Gimana perasaanmu Rikka?” kata seorang perempuan yang berada di belakang Natasha. Rikka? Aku menjawabnya dengan berkata “Aku tak yakin”, tak yakin yang dia maksud adalah aku, begitu juga dengan perasaanku, dikelilingi oleh orang-orang yang tahu tentangku lebih banyak dari diriku sendiri.

Ketika mendengar jawabanku, tatapan matanya seperti memancarkan rasa bersalah. Jangan melihatku dengan perasaan bersalahmu, itu hanya membuatku merasakannya.

Pintu ruanganku terbuka kembali, seorang lelaki muncul dengan membawa sebutik bunga. “Maaf aku telat Erika” katanya sambil mendekati ranjangku. Natasha memandang lelaki ini dan berkata, sesuatu yang akan membuat amnesiaku menjadi seribu kali lebih menyakitkan.

“Vow, kok kamu bisa-bisanya telat jenguk pacarmu sendiri”

Sudah beberapa hari aku tak keluar kamar ini, tempatku tidur-tiduran beberapa hari terakhir. Dibandingkan dengan waktuku di rumah sakit, kamarku ini terasa jauh lebih baik. Tapi sepertinya aku tak bisa lagi tidur-tiduran karena kemarin malam Ayah menyuruhku untuk segera bersekolah.

Bukannya aku tak ingin sekolah, hanya saja pergi ke sekolah saat ini terasa sangat berat. Aku tak bisa berbaur dengan teman-temanku di sekolah, berpikir mereka mengajakku mengobrol saat aku tak tahu mereka, membuat lukaku terasa terbuka kembali.

Seseorang membuka pintu kamarku dengan pelan, “Erika udah bangun?” kudengar suara Ibuku, yang kubalas dengan suaraku. Ibuku lalu lanjut membuka pintu kamarku secara penuh, cahaya luarpun langsung masuk menerangi kamarku. Tak kusangka ini sudah pagi.

“Pagi Rikka” kudengar suara lembut dari belakang Ibuku. Sebuah bayangan masuk kedalam kamarku. Ketika Ibu menghidupkan lampu di kamarku, aku bisa melihat bayangan itu adalah salah satu temanku. Aku mengenalinya dari tatapan bersalah di matanya, yang tak cocok dengan aura cerah pancaran tubuhnya.

“Jadi ini kamar kamu Rikka, berantakan banget‒ Oh ya, aku Novie, sahabat kamu dulu” katanya sambil melihat-lihat kamar ini. Aku saja belum lihat-lihat kamarku.

Perempuan ini‒ Novie, mendekatiku dan berkata “Masuk sekolah yuk” — Bagaimana aku bisa menolaknya.

Ketika kubuka pintu ini, akan ada seseorang yang tidak kukenal duduk diatas kasurku. Aku akan masuk, bilang ‘Ayo berangkat’, lalu duduk di kursi depan mobilku.

“Rikka, kamu beneran mau ke sekolah kayak gitu?” kata Novie sambil melihatku dari atas ke bawah. Dia bangun dan menarikku duduk di depan sebuah cermin, yang aku sendiri tak tahu ada di kamarku.

Novie mengambil sebuah sisir dari dalam tasnya dan berkata “Kamu diem aja, biar aku yang rapiin rambutmu”. Oke, aku gak bisa bilang ‘ayo berangkat’ kalau sudah begini.

Sedikit demi sedikit, sisiran demi sisiran, Novie merapikan rambutku, yang mungkin sudah berhari-hari tidak kurapikan.

Rambut hitam yang agak panjang dan lebat kulihat diatas wajahku. Kulihat rambut Novie, tidak terlalu berbeda denganku, hanya saja rambutnya sepanjang bahu dan terlihat rapi. Aku penasaran bagaimana gaya rambutku dulu.

Pakaian yang digunakan Novie, sama dengan yang kugunakan. Baju putih dengan rok abu yang diberikan oleh ibuku tadi. Walaupun Novie melepas sweeter berwarna abunya.

Kulihat sedikit kebawah, kulihat wajahku di cermin. Wajahku berbentuk bulat dengan dagu yang agak menyudut. Hidungku yang terlihat samar, dan mata berwarna coklat cerah, bahkan mungkin bisa kukatakan kekuningan. Aku tak merasakan emosi saat melihatnya.

Saat kulihat wajah Novie, kulihat senyum tipis di wajahnya senada dengan aura cerah yang dipancarkannya. Walaupun kontras dengan matanya yang berwarna gelap‒ Apa aku harus bilang sesuatu?!

Aku merasa tak nyaman dengan kesunyian ini. Aku ingin memulai sebuah pembicaraan, tapi aku tak tahu apa yang harus kubicaran.

Cuaca hari ini cerah ya… bukan, aku bahkan tak tahu sekarang mendung atau tidak, aku yakin kemarin malam hujan. Rambutmu cantik ya… jangan. Matamu indah ya… tidak, mataku lebih indah. Kenapa kamu bawa sisir?Tidak‒ aku menemukan sesuatu yang lebih baik.

Mata gelap Novie, lewat cermin ini terlihat terkaca-kaca. “Kena‒”” mulutku tiba-tiba terdiam, ketika Novie berhenti menyisir rambutku dan memelukku dari belakang.

Ketika aku turun dari mobil ayahku, kulihat sebuah sekolah yang cukup besar berada di hadapanku. Novie tidak bicara banyak sedari tadi di mobil, padahal aku sudah duduk di kursi penumpang. Memang awalnya aku berencana untuk menghindar bicara dengannya. Tapi aku merasakan rasa kepedulian yang besar saat ia memelukku tadi.

Karena aku duduk di belakang, mungkin ayah tak bisa berbicara banyak denganku. Aku memang tak bicara terlalu banyak dengannya, begitu juga dengan Ibu. Kurasa Ayah memang tipe yang lebih memendam perasaannya.

Ketika aku masuk melewati gerbang sekolah, ada suatu perasaan tak asing yang kurasakan terutama saat aku melihat ke sekeliling. Ada juga sedikit perasaan aneh yang tak bisa ku katakan, tak ada seorangpun yang terlihat.

Oh ya jam, tanpa sadar aku memasukkan tangan ke dalam saku rokku‒ ehmmm, aku ingin mengambil apa?

Novie sudah berjalan agak jauh, tak enak rasanya jika aku menanyakan jam berapa sekarang padanya. Ketika aku mulai mempercepat jalanku, tak kusangka tiba-tiba Novie berhenti, sesaat kemudian ia membalikkan badannya sambil menatap mataku dengan serius, lalu ia berkata “Jam berapa sekarang?”

“Tadi beruntung ya, Pak Han ga marah karena kamu” kata Novie yang duduk disebelahku. Aku tahu apa yang dia maksud. Karena terlalu lama menyisir rambutku, tanpa sadar waktu telah terlewat. Saat kami masuk kelas tadi, guru yang mengajar memarahi Novie. Tapi Novie mengelak dengan beralasan menjemputku.

“Untung guru udah ga boleh kasar sama siswa ya” katanya sambil senyam-senyum. Melihat Novie yang mulai melupakan rasa bersalahnya, membuatku ingin tertawa. Tapi aku menahan tawaku, karena aku sedari tadi diperhatikan oleh teman-teman sekelasku.

Sebuah suara tiba-tiba menarik perhatianku, suara dengan tiga nada datang dari sebuah speaker di depan kelas. Ketika aku ingin menanyakan suara itu kepada Novie, ia terlihat seperti sedang menunggu sesuatu.“Jam ketiga selesai, waktunya istirahat perta sebelum pengumuman itu selesai Novie telah berdiri dari kursinya, lalu mengangkat kedua tangannya seperti meregangkan badannya sembari berteriak “Yes, siksaan Matematika telah selesai”.

Melihat itu, Pak Han berdiri dan berteriak “Novie, kamu ini ya!”, Novie berlari keluar kelas menghindari teriakan Pak Han. Aku penasaran Novie dengan Pak Han ada masalah apa.

Lupakan dulu angan itu, saat ini tak ada yang kukenal di kelas ini. Mungkin hanya Novie, Natasha dan Vow. Novie tadi lari dari Pak Han, Natasha membantu Pak Han membawa proyektor, dan VowAku tidak melihatnya di kelas ini.

Teman-temanku yang lain sudah mengelilingiku. Aku dikelilingi oleh banyak perempuan dan beberapa laki-laki dan mereka sudah mulai menanyakan berbagai pertanyaan padaku.

Apa kamu ingat aku? Kok bisa kamu barengan sekolah sama Novie? Kamu ingat dua tambah 2? Kamu ingat cara bernafas? Aku mengerti jika mereka punya banyak pertanyaan terutama rasa penasaran mereka. Tapi maaf, aku benar-benar merasa tidak nyaman ditanyakan hal seperti itu. Bayangkan teman yang sudah lama bersama kalian, tidak ingat dengan nama kalian, tapi aku berada di sisi yang melupakan.

“Aku mau ke toilet dulu” kataku, lalu aku lari keluar kelas. Kelas ini berada di lantai dua agak jauh dari tangga, ada balkon di sepanjang depan kelas. Aku berdiam diri sesaat disana, aku bisa melihat halaman sekolahku yang cukup luas dari sini. Sembari menunggu Novie, atau mungkin Natasha. Siapapun tak apa, setidaknya aku tahu nama mereka sudah cukup.

Lamunanku hilang ketika aku mendengar sebuah suara tak asing memanggil namaku “Erika?”. Ketika aku melihat sumber suara itu‒ Ekh, tak jadi. Kutarik doaku kuganti dengan aku mau Novie saja.

“Aku denger kamu sekolah, jadi aku kesini. Maaf aku ga sempat mampir ke rumahmu, aku ragu”, mendengar permintaan maaf ketika dia tak salah membuatku ingin ikut meminta maaf. “Maaf aku tak mengingatmu” kataku.

Mendengar itu, secara dapat dimengerti, aku bisa merasakan kesedihannya. Matanya yang menyipit dan suara terbata-bata yang ia katakan, “Apakah salah jika aku ingin mengulanginya dari awal”.

Aku tak yakin apa yang dia maksud. Jika itu tentang hubungannya denganku, dulu. Aku sendiri tak yakin, apakah berpacaran dengan orang yang tidak kusuka ‒‒bukan‒‒ apakah berpacaran dengan orang yang kulupa alasan aku menyukainya‒ adalah sesuatu yang baik… Aku ingin terhubung kembali ke dunia lamaku

“Bagaimana kalau kita sekarang keliling sekolah, ke tempat kita sering menghabiskan waktu bareng. Ataukita nonton bareng? Gimana kalau aku cerita tentang kita dulu? Atau‒‒‒” semakin lama dia berbicara, semakin sesak hatiku.

Vow, semakin keras kamu berusaha mengembalikan ingatanku, semakin aku tahu ingatan itu berharga bagimu, semakin sulit diriku untuk melangkah maju.