BAB 0 – Prolog

BAB 0 / Prolog

Beep—Beep—Beep— terdengar suara di telinga kananku, semakin lama waktu berjalan semakin keras suara itu terdengar di telingaku. Aku lelah kataku dalam hati, sebenarnya aku ingin mengucapkannya dengan mulutku, tapi aku merasa seperti semua energiku terhisap habis keluar.

Cukup, suara ini sudah sangat menggangguku, kubuka mataku perlahan. Tepat ketika sinar pertama masuk ke dalam mataku, kututup kembali mataku— silau, seseorang tolong matikan suara itu.

Kucoba lagi buka mataku, dengan lambat kubuka mata kananku. Cahaya ini benar-benar mengganggu penglihatanku, kucoba menggerakan bola mataku sembari membuka mata kiriku. Hal pertama yang kulihat adalah sebuah AC yang mungkin adalah penyebab tubuhku terasa dingin.

Suara itu, kuputar kepalaku ke kanan, aku tak ingat memutar kepala bisa sesulit ini, kepalaku terasa kaku— dan perasaan sakit mulai kurasakan dari atas kepalaku.

Kulihat sebuah alat diatas meja yang berukuran tidak terlalu besar, kurasa berada tidak terlalu jauh dariku. Aku bisa meraihnya— walaupun begitu, aku tak yakin bisa mematikan suara kotak itu, tak ada salahnya mencoba.

Aku benar-benar lelah, tapi mendengar suara itu membuatku tak bisa beristirahat. Dengan sedikit energi yang kupunya, kucoba gerakkan tangan kananku, kucoba meraih alat itu, kucoba dengan lebih keras.

Apa ini?— ada sesuatu yang menjulur keluar dari tangan kananku, sesuatu berbentuk silinder dan memanjang dengan sebuah jarum yang menusuk ke tangan kananku. Dengan tangan kiriku, kuraih benda itu dan tanpa berpikir panjang kucabut dari tanganku, dengan tiba-tiba rasa sakit menyengat kurasakan dari tangan kananku.

Dengan sigap aku mencoba berdiri, tapi— “Akh!” rasa sakit menusuk tiba-tiba terasa dari perutku, aku bisa merasakan detak jantungku berdetak semakin kencang karena rasa sakit ini, disaat yang bersamaan suara tadi berbunyi semakin cepat, beep beep beepsiapapun kumohon matikan suara itu! pikirku, tapi aku tahu mulutku berkata “Matikan suara itu!” dengan sendirinya.

Kedua tanganku mendekap perutku, tapi sekarang kepalaku mulai terasa sakit. Aku merasakan denyutan di kepalaku, denyutan demi denyutan dapat kurasakan seirama dengan suara beeping itu.

Sementara aku menahan rasa sakit ini, ada seseorang yang masuk kedalam sini. Ketika kulihat, ada dua orang yang masuk secara bersamaan, seorang wanita berpakaian hijau dan pria berpakaian putih. Pria itu membuka sebuah laci di meja yang berada jauh dariku, sementara wanita itu datang mendekatiku.

Wanita itu menarik tanganku— Lepaskan! wanita itu menarik tanganku dengan lebih keras, aku melawannya dengan sekuat tenagaku. Tapi rasa sakit yang kurasakan membatasi perlawananku, wanita itu berhasil menarik tangan kananku, “Sakit!” teriakku dengan keras dan tanpa kusadari tanganku telah mendorong wanita itu.

“Pegangi tangannya!” kata pria tadi, ia membawa sebuah suntikan— apa dia ingin meracuniku?! Dengan sisa energiku kucoba memberontak, tapi aku sudah kelelahan. Wanita itu memegangi tangan kananku lagi, aku ingin mendorongnya tapi aku sudah sangat kelelahan.

Pria itu memegangi tangan kananku dengan tangan kirinya. Lalu dengan tangan kanannya ia menusukkan suntikkan itu ke tanganku, sakit— tapi aku benar-benar tidak bisa melawan. Tanganku terasa lemas, tubuhku terasa lemah, apa yang kalian lakukan padaku?!

Aku sudah tak punya energi lagi, bahkan untuk tetap bertahan membuka mataku saja aku sudah berusaha dengan sangat-sangat keras. Tubuhku terjatuh kebelakang, tapi momentum jatuhku ditahan oleh sesuatu— wanita ini menahan berat badanku, apa yang sebenarnya kau rencanakan

Dengan perlahan ia menurunkan kepalaku. Mata kiriku dengan perlahan tertutup sementara dengan mata kananku, kulihat wanita ini meletakkan tanganku di samping tubuhku.